Apakah Produk Derivatif Berbahaya?

Apakah Produk Derivatif Berbahaya?

Produk Derivatif itu apa? Kenapa dibilang berbahaya? Bagaimana tanggapan Otoritas dan Bursa Efek Indonesia dalam menanggapi produk ini? Mari kita sama-sama menyimak artikel berikut.


Warren Buffet pernah menyebut produk derivatif sebagai “bom waktu” dan “senjata pemusnah massal dunia keuangan”.

Berkshire Hathaway, perusahaan investasi yang ia pimpin, rugi transaksi derivatif tahun 2011.

Namun, tahun 2014 perusahaannya mengalami peningkatan 92% keuntungan dari $329 juta menjajadi $633 juta dari transaksi derivatif.

Pak Boediono, sewaktu masih menjabat gubernur BI pernah mengimbau lembaga-lembaga keuangan untuk kembali ke “khittah” sebagai lembaga intermediasi.

Hal ini akibat bank-bank mulai menjual produk tersebut yang dibungkus ibarat produk deposito serta gencarnya penjualan produk Lehman Brothers yang dibundel dengan pergerakan indeks beberapa indeks oleh bank-bank asing kepada nasabah-nasabah kaya mereka.

Produk derivatif pada dasarnya merupakan “bets” diantara 2 pihak yang dibuat sekarang dengan “payoff” di masa depan berdasarkan nilai dari saham, komoditas, surat hutang atau indeks.

Tujuan awal dari produk derivatif adalah sebagai lindung nilai pemilik saham, komoditas atau surat hutang agar terhindar dari kerugian yang besar.

Petani kapas membeli opsi jual kapas untuk mengamankan hasil panen kapasnya agar terhindar dari kerugian akibat potensi jatuhnya harga kapas selagi panen.

Produk ini memungkinkan pelaku usaha untuk melakukan lindung nilai atas usahanya sehingga mengurangi ketidakpastian yang timbul dari jenis usaha tersebut.

Baca juga: Minat Investasi Reksa Dana Masih Tinggi

Investor dari luar negeri yang ingin berinvestasi di Indonesia membutuhkan produk derivatif untuk bisa “mengurangi” risiko kurs lewat transaksi swap atau lainnya dalam berinvestasi di Indonesia.

Mengapa produk derivatif berbahaya?

Hal ini terkait dengan 2 hal: transaksinya dilakukan dimana dan leverage yang digunakan (penggunaan hutang).

Produk-produk derivatif yang dilakukan melalui over the counter (OTC) alias tidak dilaporkan lah yang biasanya menjadi sumber bencana.

Apabila diperdagangkan melalui bursa atau regulated biasanya aman Karena adanya pengawasan dari pihak otoritas atau banyak pihak.

Transaksi derivatif seringkali menggunakan sejumlah hutang untuk meningkatkan payoff dari transaski tersebut.

Dengan pengaturan dan pengawasan dari otoritas serta dilakukan di bursa risiko akan semakin berkurang.

Rencana Otoritas Keuangan dan upaya Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengaktifkan/menggiatkan kembali perdagangan produk derivatif yaitu berupa Kontrak Berjangka berbasis Indeks Efek (KBIE) atau Kontrak Berjangka Indeks Efek LQ-45 (LQ-45 Futures) patut kita dukung.

Untuk itu lebih baik kita katakan: “Produk derivatif, siapa takut??

Ditulis Oleh: Boris Sirait
Editor: Eriko Zulvicar

By |2018-04-01T07:08:53+00:00February 11th, 2018|Categories: Lanjutan|Tags: |0 Comments

About the Author:

Leave A Comment