INILAHCOM, Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana akan melakukan kajian pelonggaran aturan perdagangan saham dengan mekanisme Short Selling.

Hal itu sebagai program Direksi BEI yang baru di bawah kepemimpinan Inarno Djajadi.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Laksono Widito Widodo menyampaikan, bahwa transkasi menjual efek bersifat tanpa terlebih dahulu memiliki efek tersebut berlaku umum di bursabursa lainnya.

“Kami akan kaji lagi agar bisa mendekati praktek yang berlaku di bursa regional seperti Singapura atau Thailand,” kata Inarno di Jakarta, Senin (2/7/2018).

Sementara itu, Direktur Utama BEI, Inarno Djayadi menyampaikan kajian peraturan short selling itu bertujuan untuk mengenjot transaksi tersebut dengan cara peningkatan sosialasasi dan peningkatan infrastruktur perdagangan. “Kita akan aktifkanlah,” ujar dia.

Untuk diketahui, transaksi Short Selling diatur oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) lewat Peraturan BEI No. III-I tentang Keanggotaan Margin dan/atau Short Selling dan perubahan Peraturan Bursa Efek Indonesia No. II-H tentang Persyaratan dan Perdagangan Efek Dalam Transaksi Marjin dan Surat Edaran Bursa Efek Indonesia No. S-01109/BEI.ANG/02-2017 tentang Pemenuhan Ketentuan Pembiayaan Transaksi oleh Anggota Bursa.

Didalamnya diatur bahwa anggota bursa yang diperkenankan melakukan transaksi tersebut hanya yang terdaftar di OJK sebagai AB short selling dan nasabah harus menyetor modal minimal Rp200 juta. [hid]

https://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2465411/bei-kaji-aturan-short-selling